Jumat, 29 Oktober 2010

song to hear, over and over again.

Gave u the link.

Kombis

Malam ini saya dan teman-teman sekelas MM 38 malam mendapat kesempatan yang luar biasa,
Mendapat sepotong waktu dari seorang tokoh akademisi terkemuka.

Bapak Harjanto Prabowo,
yang bila anda belum cukup mengenal nama itu, perlu saya terangkan dahulu disini,
adalah rektor sebuah universitas ternama di jakarta.

Selasa beberapa minggu yang lalu, kami diperintahkan membuat sebuah halaman baru dari akun utama kami di facebook, sebuah website yang sangat. sangat. "happening" di muka bumi.

Lumayan juga, sebuah halaman tambahan yang bisa kami manfaatkan untuk menambah relasi, menciptakan sebuah komunitas, bahkan mempertebal dompet kami. :)

Kali ini kami ditugaskan membuat sebuah blog. Sebuah jurnal yang tentu anda semua tau, karena saat ini, saat anda membaca blog ini, anda sedang berselancar didalamnya.

Pikiran saya sedang tidak terlalu fokus, cukup 6 paragraf ini saja yang saya posting. Terima kasih atas kesediaan anda untuk membaca blog saya, :)

Minggu, 04 April 2010

Blossom

Saya sedang sangat suka pada lagu ini, entah ada hubungannya atau tidak dengan kehidupan pribadi saya, namun tampaknya lagu ini mengingatkan saya akan seseorang.

Seseorang yang selalu ada, bertahun-tahun lamanya menetesi benteng saya dengan perhatian, tanpa kenal lelah berusaha menempati sepetak lahan di hati saya, diselingi dengan berhari-hari percakapan kami, bermacam orang yang bergantian masuk dan keluar dari hidup kami.

Dia menyeka air mata saya untuk orang lain, menyeka peluh saya setiap kali keluhan akan hidup terucap dari mulut saya, memasukkan sekotak susu ke dalam tas saya ketika tau hari itu saya tidak tersenyum, alasannya sederhana :

"Aku cuma ingin melihatmu tersenyum..."

Posting ini saya dedikasikan untuk dia, malaikat senyum saya..

He Heals Me – India Arie

I told him my biggest secret

And he taught me for

He smiled me and said, that makes me love u more

And then he made me laugh

And i knew it was a sign

That he was a man, that i wanted in my life

And with every passing thing, i feel more n more that way

He heals me, he knows the real me, and he accepts me, he never hurts me (2x)

He heals me.. he heals me

I can play him songs, off through the night, and he will listen to every line

And even when i’m wrong, he still kind, he chooses his words wisely when he tells me i’m not right

Yes, he is a beautiful man, but he’s also a beautiful friend

He heals me, he knows the real me, and he accepts me, he never hurts me (2x)

He heals me.. he heals me

Moment fact be man, he made me smile, he’s so much compassion in his eyes

I have no idea how long he’ll be here

But a season or a life time, forever or here

But for the first time in my life i’m not worried about the future, coz we have such a wonderful time when we’re together. However things turned out. It’s alright. Cos he already changed my life.

Sabtu, 30 Januari 2010

That's what friends are for

Ada satu peristiwa menarik yang saya cermati beberapa bulan yang lalu namun lupa saya kupas.

Mengenai pandangan teman-teman mayoritas terhadap teman-teman minoritas.

Dimana eksistensi seorang teman dan perilakunya begitu meresahkan teman-teman saya yang lain.

Maka mereka merasa perlu untuk membicarakan tingkah lakunya di belakang, dengan langgam seolah mereka tidak berperan apapun terhadap pencitraan teman saya itu.

Lucu bagi saya.

Yang lucu bukan teman-teman saya itu.

Yang lucu adalah saya.

Saya yang mengaku menjadi seorang teman. Entah teman dia yang sedang digosipkan. Entah teman dari teman-teman yang sedang menggosipkan.

Teman yang sejatinya berlaku sebagai reminder. Pengingat. Alarm.

Teman yang pada hakikatnya berlaku dalam duka, apalagi dalam suka.

Dalam sedih, apalagi dalam senang.

Dalam lupa, apalagi dalam ingat.

Dalam kurang, apalagi dalam lebih.

Bukan teman yang di depan muka berlaku semanis madu, namun di belakang berlaku sepahit empedu.

Ah, apalah saya berhak berkomentar tentang apa itu definisi teman.

Saya bukan bukan sarjana filsafat yang pintar menyampaikan pikirannya menjadi kalimat-kalimat bertenaga.

Pun bukan sarjana komunikasi yang pintar merangkai kata menjadi kalimat penuh makna.

Saya hanyalah saya, yang melalui kacamata seorang manusia, mencoba memahami setiap gesekan waktu dengan ruang, menilai apa yang baik, apa yang buruk, apa yang putih, apa yang hitam, apa yang warna-warni dan apa yang abu-abu.

Sederhana.

Dan teman yang saya maksudkan dari tadi. Yang anda maksud juga saya yakin.

Adalah teman yang tidak membicarakan keburukan kita di belakang.

Namun membiarkan ia mengetahui apa yang menjadi kewajibannya kala ia mengaku menjadi manusia. Yaitu bahwa ia berada di tengah manusia juga, yang dengan itu terbebankan baginya suatu kewajiban untuk mengerti, untuk memahami, untuk mengalah sesekali, untuk mengorbankan sedikit kepentingannya demi kepentingan yang lebih besar, walau itu pahit.

Namun kala itu saya lupa, bahwa saya tidak seharusnya berada dalam forum utama.

Berada di tengah dan mengiyakan massa.

Bahwa saya seharusnya ada di sisinya, mengingatkannya, dan menjadikan ia sebagai manusia yang lebih baik.

Itu saya kira makna eksistensi seorang sahabat.

Rabu, 27 Januari 2010

Alienasi

Suatu hari konon si batin pernah berkata :
Saya ingin belajar fotografi,
tapi kemudian si akal sehat berkata:
Duh, kapan waktunya? masih banyak tanggung jawab ah..

Di lain waktu si batin berkata lagi :
Saya ingin belajar rafting,
Tapi si akal sehat berkata lagi :
Kapan? mau bolos poli?

Di waktu lain lagi, si batin berkata :
Saya ingin snorkeling dan diving di Sikuai
Si akal sehat lagi-lagi berkata :
Sekarang mau bolos kuliah?

Dan begitu seterusnya setiap kali si batin berkata, si akal sehat selalu datang mengambil alih dan menenggelamkan segala alibi si batin, menguasai ruang sadar dan logika, hingga si batin tertidur..

Sampai suatu ketika si batin terbangun, mengucek-ucek matanya dan menggeliat panjang, kemudian terheran-heran melihat si akal sehat dipenuhi luka di sekujur tubuh setelah berperang dengan waktu
"Apa yang terjadi denganmu? Siapa kamu ini?"
Akal sehat tertegun karena tidak dapat menjawab pertanyaan itu, hingga terduduk, sambil mengusap semua lukanya.
"Aku ini hanya akal sehat, yang menuruti tuntutan waktu, tuntutan zaman, tuntutan semua orang, dan tuntutan diriku sendiri, sampai ada luka di tubuhku, namun tiada yang peduli
Hingga luka itu busuk, mengering, melukai bagian lain, dan sampai saat ini aku hampir mati,
Bagaimana kalau kau mengambil alih kesadaran sampai aku sembuh?"

Si batin yang baik hati, kemudian menerima tugas itu, tapi ketika ia melihat si pemilik kesadaran, ia sudah tua, ringkih, tidak bisa melakukan apapun.
Yang tertinggal hanya penyesalan...
Kenapa tidak dari dulu?
Kenapa tidak ketika muda?
Kenapa tidak ketika sehat?


Sabtu, 21 November 2009

Perenungan di hari minggu

Bukan latah karena ikut-ikutan teman saya akhirnya punya jurnal ini.
Bukan juga karena teman saya menulis buku tentang bagaimana cara membuat blog.
Bukan karena itu.
Tapi karena memang kebutuhan untuk berbagi terasa semakin intens, seiring dengan kebisingan dan hiruk pikuk rutinitas sehari-hari yang sudah semakin menyesakkan, sehingga saya rasakan hampir tidak ada waktu lagi untuk sekedar berbagi pemikiran.
Untuk sekedar duduk, menikmati waktu, dan menikmati kebersamaan itu sendiri.
Kadang-kadang saya berpikir untuk menghilang sejenak dari keseharian saya, namun sepertinya ide tentang hilang itu sendiri sudah terasa menakutkan, tidak mungkin terealisasikan karena konsekuensinya tak terpikirkan lagi oleh saya.
Maka kemudian saya berusaha mencari jalan keluar yang lebih aman, bergerak bersama saya, dan ikut menyaksikan realitas kehidupan yang saya jalani. Bukan, bukan untuk menjadi sok bijak saya membuat perenungan seperti ini, namun hanya sekedar penawar rasa dan pelepas jejas supaya hati ini tidak ikut membeku seiring waktu.
Maka, izinkan saya memulai pencarian dahaga saya. Hari ini.