Jumat, 29 Oktober 2010
Kombis
Minggu, 04 April 2010
Blossom
Saya sedang sangat suka pada lagu ini, entah ada hubungannya atau tidak dengan kehidupan pribadi saya, namun tampaknya lagu ini mengingatkan saya akan seseorang.
Seseorang yang selalu ada, bertahun-tahun lamanya menetesi benteng saya dengan perhatian, tanpa kenal lelah berusaha menempati sepetak lahan di hati saya, diselingi dengan berhari-hari percakapan kami, bermacam orang yang bergantian masuk dan keluar dari hidup kami.
Dia menyeka air mata saya untuk orang lain, menyeka peluh saya setiap kali keluhan akan hidup terucap dari mulut saya, memasukkan sekotak susu ke dalam tas saya ketika tau hari itu saya tidak tersenyum, alasannya sederhana :
"Aku cuma ingin melihatmu tersenyum..."
Posting ini saya dedikasikan untuk dia, malaikat senyum saya..
He Heals Me – India Arie
I told him my biggest secret
And he taught me for
He smiled me and said, that makes me love u more
And then he made me laugh
And i knew it was a sign
That he was a man, that i wanted in my life
And with every passing thing, i feel more n more that way
He heals me, he knows the real me, and he accepts me, he never hurts me (2x)
He heals me.. he heals me
I can play him songs, off through the night, and he will listen to every line
And even when i’m wrong, he still kind, he chooses his words wisely when he tells me i’m not right
Yes, he is a beautiful man, but he’s also a beautiful friend
He heals me, he knows the real me, and he accepts me, he never hurts me (2x)
He heals me.. he heals me
Moment fact be man, he made me smile, he’s so much compassion in his eyes
I have no idea how long he’ll be here
But a season or a life time, forever or here
But for the first time in my life i’m not worried about the future, coz we have such a wonderful time when we’re together. However things turned out. It’s alright. Cos he already changed my life.
Sabtu, 30 Januari 2010
That's what friends are for
Ada satu peristiwa menarik yang saya cermati beberapa bulan yang lalu namun lupa saya kupas.
Mengenai pandangan teman-teman mayoritas terhadap teman-teman minoritas.
Dimana eksistensi seorang teman dan perilakunya begitu meresahkan teman-teman saya yang lain.
Maka mereka merasa perlu untuk membicarakan tingkah lakunya di belakang, dengan langgam seolah mereka tidak berperan apapun terhadap pencitraan teman saya itu.
Lucu bagi saya.
Yang lucu bukan teman-teman saya itu.
Yang lucu adalah saya.
Saya yang mengaku menjadi seorang teman. Entah teman dia yang sedang digosipkan. Entah teman dari teman-teman yang sedang menggosipkan.
Teman yang sejatinya berlaku sebagai reminder. Pengingat. Alarm.
Teman yang pada hakikatnya berlaku dalam duka, apalagi dalam suka.
Dalam sedih, apalagi dalam senang.
Dalam lupa, apalagi dalam ingat.
Dalam kurang, apalagi dalam lebih.
Bukan teman yang di depan muka berlaku semanis madu, namun di belakang berlaku sepahit empedu.
Ah, apalah saya berhak berkomentar tentang apa itu definisi teman.
Saya bukan bukan sarjana filsafat yang pintar menyampaikan pikirannya menjadi kalimat-kalimat bertenaga.
Pun bukan sarjana komunikasi yang pintar merangkai kata menjadi kalimat penuh makna.
Saya hanyalah saya, yang melalui kacamata seorang manusia, mencoba memahami setiap gesekan waktu dengan ruang, menilai apa yang baik, apa yang buruk, apa yang putih, apa yang hitam, apa yang warna-warni dan apa yang abu-abu.
Sederhana.
Dan teman yang saya maksudkan dari tadi. Yang anda maksud juga saya yakin.
Adalah teman yang tidak membicarakan keburukan kita di belakang.
Namun membiarkan ia mengetahui apa yang menjadi kewajibannya kala ia mengaku menjadi manusia. Yaitu bahwa ia berada di tengah manusia juga, yang dengan itu terbebankan baginya suatu kewajiban untuk mengerti, untuk memahami, untuk mengalah sesekali, untuk mengorbankan sedikit kepentingannya demi kepentingan yang lebih besar, walau itu pahit.
Namun kala itu saya lupa, bahwa saya tidak seharusnya berada dalam forum utama.
Berada di tengah dan mengiyakan massa.
Bahwa saya seharusnya ada di sisinya, mengingatkannya, dan menjadikan ia sebagai manusia yang lebih baik.
Itu saya kira makna eksistensi seorang sahabat.